TPS3R Batang Bangkit Lagi: Cerita Pekerja Lingkungan yang Ubah Sampah Jadi Berkah

BEIRTAU.ID,BATANG – Saat sebagian warga baru memulai rutinitas pagi, deru mesin pencacah dan aroma khas sampah sudah lebih dulu menyapa para pekerja Tempat Pengolahan Sampah Reuse, Reduce, Recycle (TPS3R) di Desa Kalipucang Wetan.

Dengan tangan cekatan, mereka memilah plastik, organik, hingga residu, menjalankan misi besar mengurangi beban sampah Kabupaten Batang dari titik paling dasar.

Mereka bukan sekadar pekerja, melainkan garda terdepan dalam perjuangan lingkungan.

Dari ruang sederhana ini, lahir harapan baru agar Batang bisa lebih bersih dan berkelanjutan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Batang, Rusmanto, menegaskan pemerintah daerah kini fokus mengaktifkan kembali sekaligus menambah jumlah TPS3R sebagai solusi hulu.

“Yang sudah aktif saat ini ada di Kalipucang Wetan, Ujungnegoro, Kedawung, dan Kepundung,” ujarnya, Kamis (8/1/2026).

Selain itu, di Kecamatan Tersono terdapat Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) yang operasionalnya lebih dinamis.

Sampah organik diolah menjadi kompos hingga pakan budidaya, sehingga manfaatnya langsung dirasakan masyarakat sekitar.

Meski semangat tinggi, realita menunjukkan jalan yang tidak mudah.

Rata-rata TPS3R hanya mampu mengolah 5–10 ton sampah per hari. Angka ini bisa lebih besar jika jumlah tenaga kerja bertambah.

“Secara umum operasional TPS3R baru berjalan satu shift. Pagi pengambilan sampah, siang pengolahan,” jelas Rusmanto.

DLH Batang kini merancang strategi agar TPS3R Kalipucang Wetan bisa menjangkau wilayah tetangga seperti Kalipucang Kulon dan Watesalit. Penambahan jam operasional menjadi syarat utama.

Tak berhenti di situ, tahun 2026 pemerintah juga menyiapkan pembangunan titik baru pengolahan sampah di Kelurahan Kauman, Kasepuhan, hingga Proyonanggan.

“Harapannya, pengelolaan sampah tidak lagi hanya bergantung pada truk pengangkut, tetapi menjadi tanggung jawab bersama di tingkat lingkungan,” tegasnya.

Di balik mesin pencacah dan tumpukan sampah, tersimpan kisah dedikasi.

Para pekerja bersama warga berusaha mengubah persepsi tentang limbah dari sesuatu yang dianggap menjijikkan menjadi sumber manfaat.(say)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *